Pariwisata Penyumbang PDB, Devisa dan Lapangan Kerja yang Mudah dan Murah

 PEKANBARU - Asisten Deputi (Asdep) Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, Oneng Setya Harini mengatakan, Pariwisata merupakan sektor prioritas pembangunan 2017 yang termasuk didalam program Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla.

Hal tersebut diungkapkannya, saat memberikan pemaparanya pada acara Pembinaan Lomba Sapta Pesona yang digelar oleh Dinas Pariwisata (Dispar) provinsi Riau di Hotel Aryaduta Pekanbaru, Sabtu (7/10/2017).

Ditambahkannya, Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya juga telah menyampaikan, untuk Indonesia sektor pariwisata merupakan penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), Devisa dan lapangan Kerja yang paling mudah dan murah.

"Data World Travel Tourism Council (WWTC) dan World Bank 2016 menyebutkan, Pariwisata menyumbangkan 10 persen devisa nasional, tertinggi di Asean," jelas Asdep, Oneng Setya Harini.

"Pertumbuhan PDB pariwisata di atas rata-rata industri, dan sektor ini juga peringkat ke-4 penyumbang devisa nasional, yaitu sebesar 9,3 persen, dengan pertumbuhan devisa tertinggi 13 persen dengan biaya pemasaran hanya 2 persen dari proyeksi devisa," ujar Asdep, Oneng Setya Harini.

Dibidang tenaga kerja Oneng Setya Harini juga menuturkan, sektor pariwisata menyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan atau 8,4 persen. Lapangan kerja tumbuh 30 persen dalam lima tahun dan merupakan pencipta lapangan kerja termurah 5000 dolar Amerika per satu pekerjaannya.

Oneng Setya Harini menegaskan kepada 120 orang yang hadir di acara Pembinaan lomba sapta pesona, "Masyarakat merupakan pemangku kepentingan dalam pengembangan pariwisata," tegasnya.

"Masyarakat lokal memiliki posisi dan peran penting dalam proses pengembangan serta memiliki hak dan kesempatan untuk turut ambil bagian sebagai penerima manfaat atau pelaku usaha kepariwisataan di daerahnya," tutur Asdep Oneng Setya Harini.

Kekayaan adat, tradisi dan budaya merupakan aset dan daya tarik kepariwisataan dan masyarakat lokal merupakan tuan rumah bagi wisatawan yang berkunjung ke daerahnya.

Untuk itu Asdep Oneng Setya Harini berharap dalam peningkatan dan pembinaan sadar wisata pengembangan pariwisata masyarakat dapat menjadi tuan rumah yang baik, meningkatkan citra mutu produk serta pelayanan dan penerapan Sapta Pesona dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhir pemaparanya Asdep Oneng Setya Harini menjelaskan, saat ini target kinerja pariwisata tahun 2017, Kementerian Pariwisata menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 15 juta orang dan wisatawan nusantara sebanyak 265 juta orang.

Adapun program prioritas Kemenpar pada tahun 2017 yaitu, Digital Tourism, Homstay (Rumah Wisata, red), Airlines, Top-10 Originasi, Top-3 Destinasi utama (15 Destination Branding), Pengembangan 10 Destinasi Pariwisata prioritas, Sertifikasi Kompetensi SDM dan Gerakan sadar wisata, Peningkatan Investasi dan Pengelolaan krisis Center ***

 

 

 

Comsnets Indonesia Dukung Pengembangan Sektor Pariwisata

 Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Comsnets 2017, sebuah konferensi internasional yang membahas berbagai hal terkait hasil riset dan perkembangan Information Communication and Technology (ICT) dunia.

Konferensi ini membahas berbagai hal pengembangan ICT untuk diterapkan dalam berbagai sektor, termasuk pariwisata. Kegiatan yang diinisiasi KADIN Indonesia dan M-Solving Group ini berlangsung selama dua hari, mulai Kamis 5 Oktober 2017 hingga Jumat 6 Oktober 2017 di Hotel Fairmont, Jakarta.

Kegiatan ini dihadiri para pegiat industri ICT tanah air, juga para pakar dan pembicara bertaraf internasional di bidang ICT.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Rosan P. Roeslani dalam sambutannya mengatakan, industri saat ini tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

"Kita sama-sama tahu bahwa perkembangan industri ke depan akan lebih banyak bergantung pada ICT. Mulai dari perbankan, manufacturing, transportasi, komunikasi dan tidak ketinggalan adalah pariwisata," ujar Rosan P Roeslani, Kamis 5 Oktober 2017.

Karena itu sangat penting bagi Indonesia untuk dapat terus membangun dan meningkatkan teknologi ICT.

"Dalam konferensi ini dipertemukan para akademisi, peneliti, industri yang diharapkan dapat melakukan kolaborasi. Hal ini penting mengingat Indonesia memiliki potensi besar di bidang ICT," kata Rosan.

Salah satu yang kuat untuk dikembangkan, khususnya di Indonesia, adalah sektor pariwisata yang oleh Presiden Joko Widodo telah ditetapkan sebagai salah satu leading sektor perekonomian bangsa.

Dalam Rakornas KADIN kemarin, Presiden Joko Widodo bahkan mengingatkan dan mengajak para pengusaha untuk dapat berkontribusi lebih dalam pengembangan sektor pariwisata Indonesia yang ditargetkan mencapai tingkat kunjungan wisatawan mancanegara hingga 20 juta di tahun 2019 mendatang.

"Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi tentu sangatlah berperan di dalamnya," ujar Rosan.

President Comsnet Association & IIT Delhi, India, Prof. Huzur Saran mengatakan, Comsnets didirikan oleh para profesional dan ahli ICT terpilih dari India yang dalam perjalanannya selama satu dekade berkembang menjadi Comsneta Association.

"Tujuan utama dari asosiasi ini adalah mempertemukan para pakar terkenal di sektor ICT untuk berbagi penelitian terbaru, teknologi dan perkembangannya dengan perwakilan industri, pemerintah dan akademisi," kata dia.

Ia melanjutkan, konferensi Comsnets di India saat ini telah menjadi konferensi paling bergengsi di bidang sistem komunikasi, jaringan, aplikasi dan layanan. Tidak hanya di India tetapi Asia dan sebagian besar negara maju seperti Amerika dan Eropa.

"Sehingga kehadiran Comsnets selalu ditunggu untuk menjadi trendsetter bagi para pelaku industri ICT. Termasuk penyelenggaraan di Indonesia kali ini," ujar Huzur Saran.

Sementara Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuti mengatakan, acara ini dihadiri banyak pelaku industri ICT serta mahasiswa. Sehingga diharapkan bisa mengambil peluang dalam mengembangkan sektor pariwisata melalui teknologi digital.

"Indonesia harus bisa mengambil peluang ini, baik untuk pengembangan pariwisata nusantara dan juga internasional," ujar Esthy didampingi Asdep Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah, Tazbir dan Kepala Bidang Promosi Wisata Pertemuan dan Konvensi, Eddy Susilo.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi terselenggaranya ‘Konferensi Comsnets Indonesia 2017’ yang untuk pertama kalinya digelar di Indonesia. Kegiatan ini selain semakin meningkatkan Indonesia sebagai destinasi wisata MICE, tapi lebih jauh memperkuat pembangunan sektor pariwisata Indonesia melalui sektor digital.

"Pemerintah sendiri dalam hal ini Kementerian Pariwisata telah menggulirkan strategi digital dalam promosi dan pemasaran. Hal ini mutlak untuk dilakukan dalam perkembangan dunia teknologi dan informasi saat ini," kata dia.

Menpar mengatakan, guna mewujudkan visi 20 juta wisman di tahun 2019 tidak bisa jika tidak memanfaatkan teknologi digital. Karena itu Kemenpar dikatakannya telah menerapkan strategi digital.

Mulai dari War Room sebagai pusat kendali peperangan berupa perangkat berbasis digital yang memungkinkan Kemenpar mengambil keputusan-keputusan secara cepat dengan berbasis pada data real time.

"Data real time ini tak mungkin kita peroleh jika platform kita tidak digital. Juga ada platform online market place pariwisata Indonesia yaitu ITX (Indonesia Travel Exchange). Platform ini akan berfungsi super efisien sebagai hub yang mempertemukan supply dan demand industri pariwisata Indonesia," kata Menpar.

Ia mengatakan bahwa 'The more digital, the more personal. The more digital, the more professional. The more digital, the more global'. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah fakta bahwa konsumen atau dalam hal ini wisatawan sudah jauh perilakunya menjadi semakin digital.

"Gaya hidup wisatawan dalam mencari informasi destinasi, memperbandingkan antar produk, memesan paket wisata, dan berbagi informasi kini telah mereka lakukan secara digital, singkatnya mereka search and share menggunakan media digital," kata Menpar.

Karena itu ia berharap melalui Konferensi Comsnets Indonesia 2017 akan tercipta diskusi dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat lebih menumbuhkembangkan pariwisata di Indonesia. (Viva.co.id)

 

 

 

Kewaspadaan dan ujian pariwisata Bali di tengah potensi letusan Gunung Agung

Kedatangan wisatawan mancanegara di Bali mencapai titik tertinggi untuk tahun 2017 pada Agustus lalu, sebelum Gunung Agung mulai menunjukkan tanda-tanda erupsi.
Iklan

Di tengah kewaspadaan terhadap letusan gunung api itu, para pemangku kepentingan pariwisata bersiasat menghindari potensi kerugian.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia untuk kawasan Bali, Cok Atje, menyebut status awas Gunung Agung yang ditetapkan PVMBG awalnya tidak mempengaruhi tingkat kehadiran wisatawan mancanegara ke provinsi itu.

Namun, kata Atje, seiring pemberitaan media massa dan gelombang pengungsian ratusan ribu warga dari sekitar Gunung Agung, pariwisata Bali mulai terdampak.

"Oktober ini ada potensi pembatalan pesanan hotel sebesar 20%, terutama tamu-tamu datang ke Bali untuk mengikuti rapat atau konferensi," ujarnya kepada BBC Indonesia, Kamis (05/09).

"Kami berharap, dengan penjelasan gubernur dan kedatangan Menteri Pariwisata ke Pura Besakih, potensi pembatalan itu berkurang," tutur Atje.

Kamis (05/10) pagi, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, mengikuti sembahyang memeperingati bulan penuh (purnama kapat) di Pura Besakih, Karangasem bersama sejumlah pemuka agama dan puluhan pemeluk Hindu.

Pemerintah sebelumnya meminta pura itu ditutup sementara karena masuk kawasan rawan bencana atau berjarak sembilan kilometer dari Gunung Agung.

"Jumlah peserta sembahyang berkurang (daripada tahun 2016). Wisatawan sudah cancel datang ke sini (Besakih), mereka yang berencana mendaki gunung juga tidak bisa datang," kata Pastika.

Usai upacara keagamaan itu, giliran Menteri Pariwisata Arief Yahya yang datang ke Pura Besakih. "Kami ingin menenangkan masyarakat dan membuktikan bahwa Bali aman," ujar Arief.

Badan Pusat Statistik Bali mencatat, sebanyak 601.884 wisatawan luar negeri datang ke Bali selama Agustus lalu. Sebesar 99,6% dari mereka datang ke Bali melalui bandara.

Sejak status awas pada 22 September lalu, Bandara Ngurah Rai di Denpasar masih terus beroperasi. Menurut Cok Atje, jika aktivitas vulkanik Gunung Agung menganggu lalu lintas penerbangan, roda pariwisata Bali akan terdampak secara langsung.

Pemberian insentif

Arief Yahya mendorong para pemilik hotel di Bali memberikan penawaran khusus bagi para wisatawan mancanegara selama Gunung Agung bergejolak. Menurutnya, pelaku industri pariwisata perlu menyiapkan skenario khusus, terutama jika gunung api itu akhirnya benar-benar meletus.

"Secara psikologis setiap orang punya keinginan untuk lebih dulu pulang. Mengatasi ini, kalau bisa ada keringanan, misalnya diskon 100% pada pekan pertama, dan pekan berikutnya 80%," ujarnya.

Selama kondisi awas, Arief menyebut penanganan wisatawan mancanegara memang sepatutnya dibedakan dengan turis dalam negeri.

"Orang Indonesia, sekali sudah menyentuh Gilimanuk atau Ketapang, bisa self-manage. Kalau wisatawan mancanegara, meski menyeberang ke Gilimanuk, persoalan mereka belum selesai," tutur Arief.

Lebih dari itu, Arief mengatakan pemerintah akan menerapkan strategi untuk mencitrakan Bali aman dikunjungi meski potensi letusan Gunung Agung tetap ada.

Salah satunya, kata Arief, lembaganya menggunakan istilah Bali tourism hospitality untuk mengganti crisis center dan mensubstitusi evakuasi dengan mengantarkan.

Asosiasi hotel di Bali, menurut Cok Atje, sebenarnya berpengalaman menghadapi kondisi bencana gunung api. Dalam dua tahun terakhir, Gunung Raung di Banyuwangi dan Gunung Barujari di Lombok meletus. Erupsi itu sempat memicu penutupan Ngurah Rai.

Atje berkata, asosiasinya mendorong hotel-hotel di Bali membuat daya tarik tersendiri untuk menjaga kepercayaan wisawatan mancanegara.

"Jika wisatawan tidak dapat berangkat karena penutupan bandara, kami akan memberikan sejumlah kemudahan dan pelayanan," kata dia.

Kementerian Pariwisata sebelumnya menyebut 15.000 wisatawan luar negeri datang ke Bali setiap hari. Namun setelah Gunung Agung erupsi, setidaknya 60.000 turis asing diperkirakan telah membatalkan perjalanan ke provinsi itu.

Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana memperpanjang status siaga darurat bencana Gunung Agung hingga 16 Oktober. Lembaga itu menyebut aktivitas vulkanik gunung itu cenderung terus meningkat setiap hari.

Hingga pukul 18.00 WITA, Kamis kemarin, jumlah pengungsi Gunung Agung mencapai 146.797 orang dan tersebar di sembilan kabupaten atau kota.

Pengamat kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada, Dwikorita Karnawati, mendorong pemerintah terus memperbarui peta bahaya Gunung Agung dan menyelaraskannya dengan peta tata ruang.

Menurut Dwikorita, penyelarasan itu penting dan perlu diterapkan agar seluruh aktivitas perekonomian dan kependudukan di sekitar Gunung Agung tidak berhenti ketika potensi letusan terjadi.

"Sebetulnya tata ruangnya sudah ada tapi tidak semua mempertimbangkan bahaya bencana. Kalaupun dimasukkan, skala atau tingkat detailnya masih kasar," kata Dwikorita.

 

 

 

About

Imagine yourself dwelling in a world of super fast website building capacity. You just see it fully grown up even before you feel that you have just started building it!

Contact For Ads

  • Indonesia Bagian Barat :
  • Jalan Merapi Blok B4 No 48
  • Bukit Permai Cibubur - Jakarta Timur
  • Mobile : 0811 979 988 / 0813 1488 8999
  • Indonesia Bagian Timur :
  • Shopping Arcade 07
  • Apartemen Soekarno Hatta, Jl. Soekarno Hatta No 2
  • Jatimulyo - Lowokwaru, Kota Malang
  • Ph. +62 31 475905, Fax. +62 31 475907

Connect with us